Dalam
kamus bersar bahasa indonesia pengertian jahat adalah sangat jelek, sedangkan
pengertian baik adalah patut.
“Jika
kejahatan di balas kejahatan, maka itu adalah dendam. Jika kebaikan dibalas
kebaikan itu adalah perkara biasa. Jika kebaikan dibalas kejahatan, itu adalah
zalim.
Tapi
jika kejahatan dibalas kebaikan, itu adalah mulia dan terpuji.”
Balaslah
Kejahatan Dengan Kebaikan. Ketika seseorang melukai dan menyakti hati kita,
tentunya saat itu timbul rasa marah dalam diri kita. Justru mungkin sempat
terpikir untuk membalas perlakuannya. "Astaghfitullah".
Di
mana ketika timbul amarah dalam diri kita, syetan sedang menggoda kita agar
kita meluapkan kemarahan kita dengan membalas perlakuanya.
Tentu
ini menjadi bagi kita apakah bisa untuk melewatinya....? menepis semua godaan syetan
atau justru mengikuti godaannya dengan membalaskan dengan keburukan juga? Nah,
di sinilah keimanan kita diuji. Bagaimana kita akan menghadapinya.
Firman
Allah S.W.T di dalam Al-Quranul Karim Yang bermaksud : "Wahai orang-orang
yang beriman minta tolonglah kamu dengan sabar dan sembahyang, sesungguhnya
Allah bersama-sama dengan orang yang sabar " (153).
Mengenai
hal ini Rasulullah SAW pernah bersabda, “Menakjubkan perihal orang yang
beriman. Sesungguhnya setiap perkara dalam urusannya (orang mukmin) semuanya
adalah baik baginya dan tidak berlaku hal yang demikian melainkan ke atas mereka
yang beriman. Jika dia ditimpa kesusahan dia bersabar maka yang demikian adalah
baik baginya dan jika dia didatangkan kemudahan dia bersyukur maka yang
demikian adalah baik baginya.” Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim (7425).
Bukankah
Rasulullah pun telah mengajarkan kepada kita untuk membalas kejahatan dengan
kebaikan seperti yang yang diceritakan dalam sebuah kisah berikut ini :
Di
satu sudut pasar Madinah Al- Munawarah ada seorang pengemis Yahudi buta. Hari
demi hari apabila ada orang yang mendekatinya dia selalu berkata, "Wahai
saudaraku janganlah kami dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu
pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan
dipengaruhinya."
Namun
tanpa disedari pengemis Yahudi buta, setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya
dengan membawa makanan. Tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW
menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu
selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Begitulah
yang dilakukan oleh baginda pada setiap hari sehinggalah ke saat kewafatannya.
Setelah
Rasulullah SAW wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi
kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abu Bakar Radhiallahu Anhu (RA)
berkunjung ke rumah anaknya Aisyah. Beliau bertanya kepada anaknya,
"Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan...?"
Aisyah
menjawab pertayaan ayahnya, "Wahai ayahanda, engkau adalah seorang ahli
sunnah dan hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali
satu sunnah saja."
"Apakah
itu?", tanya Abu Bakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi
ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta
yang berada di sana," kata Aisyah.
Keesokan
harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk di berikannya
kepada pengemis itu. Beliau mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu
kepadanya.
Ketika
Abu Bakar RA mulai menyuapkan nasi, si pengemis itu marah sambil berteriak,
"Siapakah kamu?"
Abu
Bakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa." "Bukan! Engkau bukan
orang yang biasa mendatangiku," jawab si pengemis buta itu. "Apabila
dia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini
mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapkan aku tetapi
terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut," pengemis itu melanjutkan
perkataannya.
Abu
Bakar RA tidak dapat menahan air matanya. Beliau menangis sambil berkata kepada
pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah
salah seorang dari pada sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi.
Beliau adalah Muhammad Rasulullah SAW."
Setelah
pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar RA, dia pun menangis dan kemudian
berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya dan
memfitnahnya. Dia tidak pernah memarahiku walau sedikit pun, malah dia
mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia begitu mulia.."
Pengemis
Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadah di hadapan Abu Bakar RA.
Subhanallah,
bukankah kisah ini telah mengajarkan kita agar kita tetap dapat berbuat
kebaikan meskipun kepada seseorang yang telah berbuat jahat kepada kita "
Tetaplah rendah hati."
Dalam
menghadapi kejahatan yang dilakukan seseorang kepada kita Alquran memberikan
petunjuk Tolaklah kejahatan itu dengan kebaikan maksudnya adalah jika ada orang
yg berbuat jahat kepada kita balaslah kejahatannya itu dgn kebaikan. Jika ada
orang yg jahat kepadamu dgn perbuatannya dgn perkataannya atau dengan sesuatu
yg lain maka balaslah hal itu dgn kebaikan. Jika ia memutus hubungan denganmu
cobalah jalin hubungan baik dengannya. Jika ia menzalimi maafkanlah ia. Jika
berbicara tentang kamu janganlah engkau hiraukan.
Tetapi
maafkanlah ia dan sambutlah ia dengan perkataan yang baik. Apabila ia
menjauhimu dan tidak menghiraukanmu tetaplah berkata yg lembut dan mengucapkan
salam kepadanya. Jika engkau mampu membalas kejahatan dgn kebaikan niscaya
engkau akan mendapatkan faedah yang sangat besar.
Insya
Allah dengan kesabaran, kita dengan perlakuan kita yang mebalas kejahatan
dengan kebaikan , maka kebaikan itu akan membuat dia menjadi lebih baik kepada
kita, bahkan sangat mungkin untuk berubah menjadi lembut kepada kita...
Memang
sulit untuk melakukan ini semua, suatu hal yang bertentangan dengan watak dasar
kita sebagai manusia, tetapi barang siapa yang mampu mengamalkannya akan
mendapat keberuntungan yang besar dan itu hanya diberikan oleh Allah kepada
hambaNya yang sabar.
Ya
Allah, karuniakanlah kepada kami kesabaran dan lindungilah kami dari
orang-orang yang zalim, Amin....
Yuk,
saat ini kita sama-sama belajar untuk membalas kejahatan dengan
kebaikan.....!!! [pw]
No comments:
Post a Comment