Einsten pernah bilang
bahwa setiap anak dilahirkan sebagai jenius, tetapi jika kalian menilai se-ekor
ikan dari caranya memanjat ia akan merasa bodoh seumur hidup. Ki Hajar
Dewantoro juga pernah berkata padi tak akan pernah menjadi jagung yang artinya
setiap orang memiliki keahlian masing-masing dan juga bakat yang berbeda.
Dan sayangnya sistem
Pendidikan di Indonesia masih mengotak-kotakan siswa seperti itu. Siswa yang
tidak bisa menanggapi pelajaran utama dianggap tidak mampu. Mereka bukan tidak
mampu tapi bidangnya bukan di sana, mungkin di antara mereka ada seorang aktor
peran yang tak perlu rumus aljabar, atau seorang pelukis yang butuh algoritma.
Jadi selamanya mereka
yang tak bisa mengerjakan ataupun mengerti pelajaran utama akan menjadi ikan
yang belajar memanjat. Pendidikan di Indonesia ini jahat kata Panji
Pragiwaksono karena setiap anak tidak bisa yakin kalau mereka berbeda.
Bayangkan saja setiap anak harus mengerti matematika, fisika, kimia dan
kalaupun mereka gagal oleh beberapa hal tersebut selamanya mereka akan di cap
bodoh padahal mereka hanya berbeda.
Di sinilah peran aktif
orang tua di butuhkan. Bukan malah memberikan beban yang lebih berat tapi
memberikan motifasi yang lebih pada anak anak mereka. Bukan berarti saat mereka
tak bisa mengerjakan soal bahasa asing anda mengadili mereka seolah olah bahwa
dunia akan berakhir saat mereka tidak bisa berbahasa asing atau mengerjakan
fisika, kimia, matematika. Tetapi bila memang bakat mereka ada di sana berikan motifasi
juga untuk tetap mencintai apa yang sudah mereka pilih. Berikan mereka pilihan,
biarkan mereka mencoba lalu gagal berikan sedikit ruang untuk mereka
berexsperimen. [PW]
No comments:
Post a Comment