Friday, April 21, 2017

Catatan Pendidikan di Indonesia

Einsten pernah bilang bahwa setiap anak dilahirkan sebagai jenius, tetapi jika kalian menilai se-ekor ikan dari caranya memanjat ia akan merasa bodoh seumur hidup. Ki Hajar Dewantoro juga pernah berkata padi tak akan pernah menjadi jagung yang artinya setiap orang memiliki keahlian masing-masing dan juga bakat yang berbeda.
Dan sayangnya sistem Pendidikan di Indonesia masih mengotak-kotakan siswa seperti itu. Siswa yang tidak bisa menanggapi pelajaran utama dianggap tidak mampu. Mereka bukan tidak mampu tapi bidangnya bukan di sana, mungkin di antara mereka ada seorang aktor peran yang tak perlu rumus aljabar, atau seorang pelukis yang butuh algoritma.
Jadi selamanya mereka yang tak bisa mengerjakan ataupun mengerti pelajaran utama akan menjadi ikan yang belajar memanjat. Pendidikan di Indonesia ini jahat kata Panji Pragiwaksono karena setiap anak tidak bisa yakin kalau mereka berbeda. Bayangkan saja setiap anak harus mengerti matematika, fisika, kimia dan kalaupun mereka gagal oleh beberapa hal tersebut selamanya mereka akan di cap bodoh padahal mereka hanya berbeda.
Di sinilah peran aktif orang tua di butuhkan. Bukan malah memberikan beban yang lebih berat tapi memberikan motifasi yang lebih pada anak anak mereka. Bukan berarti saat mereka tak bisa mengerjakan soal bahasa asing anda mengadili mereka seolah olah bahwa dunia akan berakhir saat mereka tidak bisa berbahasa asing atau mengerjakan fisika, kimia, matematika. Tetapi bila memang bakat mereka ada di sana berikan motifasi juga untuk tetap mencintai apa yang sudah mereka pilih. Berikan mereka pilihan, biarkan mereka mencoba lalu gagal berikan sedikit ruang untuk mereka berexsperimen. [PW]


No comments:

Post a Comment