Sunday, May 14, 2017

SEKILAS TENTANG CALISTUNG

SEKILAS TENTANG CALISTUNG

20161118_080733.jpgIstilah Ca-Lis-Tung (Baca-Tulis-Hitung) mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat. Kegiatan Calistung merupakan kegiatan rutin dan wajib yang setiap  harinya dilaksanakan pada setiap sekolah PAUD dan juga pada Sekolah Dasar kelas rendah (I, II dan III). Namun tahukah anda bahwa selama ini pembelajaran Calistung pada lembaga PAUD masih menjadi perdebatan ?
Pembelajaran Calistung kepada anak usia dini memang sampai sekarang masih menjadi perdebatan yang seolah tidak berujung. Ada pihak yang dengan jelas sangat menentang pembelajaran Calistung pada anak, tetapi di sisi lain ada pula pihak yang tetap mengajarkan Calistung pada anak dengan berbagai alasan. Sebenarnya apa yang harus dilakukan oleh seorang pendidik ?. Pendidik merupakan orangtua anak di sekolah yang berperan membantu anak untuk mencapai semua aspek perkembangannya. Dalam hal ini termasuk aspek kognitif, atau yang lebih dikenal dengan aspek logika matematika dan aspek linguistik atau perkembangan bahasa pada anak. Lalu mengapa Calistung tidak boleh diajarkan pada anak usia dini ?.
Jika dipahami secara lebih mendalam, yang sebenarnya menjadi permasalahan adalah bukan boleh atau tidaknya diajarkan Calistung pada anak tetapi bagaimana cara mengajarkan Calistung pada anak. Pembelajaran Calistung pada anak menjadi suatu hal yang dianggap kurang tepat atau tidak boleh diajarkan karena cara pengajaran sebagian besar guru yang selama ini digunakan adalah dengan mendikte anak, terkesan kaku, cenderung memaksakan kehendaknya pada anak atau bersikap otoriter pada saat mengajarkan Calistung. Pembelajaran calistung pada anak penting untuk diterapkan, tentunya dengan cara yang tepat yakni dengan tetap memahami bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Ajari anak Calistung melalui bermain, ajari anak Calistung dengan cara-cara yang disukainya. Tentunya hal tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan tingkat pencapaian perkembangan anak.[Al-Fatih]


Saturday, May 13, 2017

Peran Guru dalam Kegiatan Bermain Anak



Seorang guru tak ayal merupakan sosok orangtua bagi anak ketika anak berada di sekolah. Oleh sebab itu seorang guru dituntut untuk memiliki berbagai keterampilan serta mampu memainkan banyak peran dalam satu waktu. Hal tersebut tak lain dimaksudkan untuk dapat mengoptimalkan setiap aspek perkembangan pada diri anak. Menurut Undang Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya. Menurut Cook dan Klein (Musfiroh dan Tatminingsih, 2016) menyebutkan terdapat beberapa kemampuan yang dibutuhkan guru yakni sebagai berikut :
1.            Pengetahuan dan proses pengajaran normal bagi perkembangan anak.
2.            Kemampuan untuk mengenali gejala cacat secara spesifik.
3.            Kemampuan untuk mengamati dan merekam kebiasaan tiap anak.
4.           Kemampuan untuk bekerja dengan santai dalam mendiagnosis masalah yang berhubungan dengan perkembangan.
5.    Kemampuan untuk menyiapkan tujuan jangka panjang dan jangka pendek yang berkaitan dengan perkembangan anak secara tepat dan konsisten dalam hal pembelajaran dan pengamatan yang disesuaikan dengan jenis anak.
6.    Kemampuan untuk menyusun lingkungan yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus.
7.            Mengerti dan mempercayai, paham atas kurikulum yang digunakan.
8.            Kemampuan untuk mengembangkan komunikasi yang efektif dan jujur dengan anak.
9.    Kemampuan untuk meningkatkan interaksi positif diantara berbagai tingkat kemampuan anak dan budaya yang berbeda.
10.      Kemampuan untuk biasa bekerja secara efektif dan profesional bersama tim.
11.  Kemampuan untuk mengambil kebijakan, melatih, dan bekerjasama dengan profesional.
12.         Kemampuan untuk dapat mendengarkan orangtua secara seksama dan membangun program yang melibatkan keluarga.
13.         Kemampuan untuk memfasilitasi pembelajaran sesuai kebutuhan anak secara optimal.
14.         Kemampuan untuk memprakarsai proses penyerahan resmi.
15.         Kemampuan untuk mengenali kelemahan satu sam lain dan membantu secara tepat.
Penjelasan di atas menjabarkan beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru. Pada hakikatnya beberapa kemampuan tersebut merupakan penjabaran dari 4 kompetensi inti yang harus dimiliki oleh guru yakni kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Isenberg dan Jalongo 1993 (Musfiroh dan Tatminingsih, 2016) menjabarkan peran dan tanggungjawab guru yakni sebagai berikut :
1.   Guru sebagai peninjau
Mengenai peran guru sebagai peninjau, hendaknya seorang guru mampu menjadi peninjau atau pemerhati yang baik. Guru memperhatikan anak dengan seksama saat anak sedang bermain. Hal ini dimaksudkan agar guru dapat mengetahui apakah anak memerlukan bantuan guru atau tidak dalam menghadapi masalah yang mereka temukan saat bermain, selain itu guru juga diharapkn dapat mencatat mengenai peran apa yang sering anak mainkan saat bermain, tema apa yang paling sering dipih oleh anak serta bagaimana kemampuan anak dalam berinteraksi dan berpartisipasi dalam aktivitas kelompok.
2.   Guru sebagai penyampai
Dalam hal ini, guru diharapkan mampu menyampaikan hal-hal berkaitan dengan permainan yang akan dimainkan, aturan permainan tersebut, dan lain lain.
3.   Guru sebagai perencana
Guru harus mampu merencanakan atau merancang pembelajaran yang didalamnya memuat permainan yang bermakna bagi anak serta mengondisikan lingkungan yang kondusif dan penggunaan waktu yang efektif.
4.   Guru sebagai penjawab
Di dalam pembelajaran, guru diharapkan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh anak, adanya interaksi atau hubungan timbal balik yang baik antar guru dan anak akan menimbulkan kedekatan serta hubungan yang baik pula.
5.   Guru sebagai contoh
Terkadang guru bukan hanya berperan sebagai pemerhati saja melainkan juga guru harus turut berpartisipasi dalam permainan. Guru diharapkan dapat bergabung secara aktif dalam permainan dengan bersikap secara nyata atau peran yang relevan pada permainan. Hal ini dimaksudkan agar guru dapat mengajar anak secara individu atau berkelompok sesuai dengan kemampuan dan sikap yang dibutuhkan anak dalam permainan.

Kegiatan bermain merupakan kegiatan penting bagi kehidupan anak, “Dunia anak adalah Bermain”. Kegiatan bermain yang dilakukan oleh anak merupakan salah satu faktor yang akan memengaruhi tingkat pencapaian perkembangan anak. Oleh sebab itu, sebagai seorang guru hendaknya mampu mengoptimalisasi peran, fungsi serta kompetensi-kompetensi yang memang harus dimiliki oleh seorang guru agar mampu mengoptimalkan tingkat pencapaian perkembangan anak.[Al-Fatih]

Referensi : 
Musfiroh, Tatminingsih.2016.Bermain dan Permainan Anak.Tangerang Selatan: Universitas Terbuka

Tuesday, May 9, 2017

Qolbun Salim (Hati yang Selamat)

Qolbun Salim (Hati yang Selamat)

images (2) (2).jpgPernahkah anda mendengar hadits rosulullah shollallahu’alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa semua penyakit bersumber dari hati ?. Mengapa demikian ?, berikut penjelasan lengkap mengenai hal tersebut.
“Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati”. (H.R Bukhori)
Hadits tersebut menyebutkan bahwa kebaikan hati akan menentukan kebaikan seluruh tubuh, yang dimaksudkan dalam hal ini yaitu kebaikan hati seseorang akan terpancar melalui baiknya pikiran, hati, serta sikap dan perilaku seseorang. Islam menjelaskan bahwa terdapat 3 jenis hati yaitu Qolbun Salim (Hati yang Selamat), Qolbun Mayyit (Hati yang Rusak/Mati) dan Qolbun Maridh (Hati yang Sakit). Namun dalam pembahasan kali ini kita akan membahas mengenai hatinya orang-orang yang beriman yakni Qolbun Salim.